Senin, Juli 13, 2009

Kesalahpahaman tentang Imunisasi (Vaksin dapat menimbulkan autisme)

Pada tanggal 3 Oktober 1999, Cable News Network (CNN) menayangkan acara yang menampilkan orang tua dari Liam Reynolds (3 tahun) yang menyatakan bahwa anaknya menderita autisme 2 minggu setelah mendapat imunisasi vaksin MMR (vaksin untuk campak, gondongan, dan campak Jerman). Program tersebut juga menayangkan ulasan dokter Stephanie Cave dari Louisiana, seorang spesialis yang menangani autisme dengan diet dan suplemen nutrisi. Secara resmi American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan dan menjelaskan mengapa tidak ada alasan kuat yang menunjukkan adanya hubungan antara autisme dan vaksinasi. Tapi dengan adanya penayangan video dramatis “sebelum dan sesudah” dari anak tersebut, memiliki dampak yang cukup kuat untuk mempengaruhi para orang tua untuk menghindari pemberian imunisasi untuk anak-anak mereka. Narator dari acara tersebut menyatakan bahwa terdapat angka yang membingungkan dari jumlah anak yang terdiagnosis menderita autisme. Agaknya yang terjadi adalah peningkatan angka pelaporan, bukan peningkatan angka kasus sesungguhnya.

Autisme adalah suatu kelainan perkembangan kronik yang ditandai dengan adanya masalah pada ineteraksi sosial, komunikasi, serta minat dan aktivitas yang terbatas dan berulang. Autisme awalnya dapat diperhatikan pada masa bayi berupa gangguan perhatian, tetapi seringnya mulai teridentifikasi pada masa balita, terutama pada laki-laki usia 18 sampai 30 bulan. Anak laki-laki diperkirakan memiliki kecenderungan menderita autisme 3-4 kali lebih besar dari pada anak perempuan. Ketepatan mendiagnosis autisme bergantung pada akurasi riwayat perkembangan yang terfokus pada tipikal tingkah laku autisme dan evaluasi keterampilan fungsional. Sekitar 75% penderita autisme mengalami retardasi mental. Kurang dari 5% anak-anak dengan bakat autistik memiliki kromosom X yang rapuh (fragile x, kelainan yang salah satu manifestasinya juga retardasi mental) atau kelainan kromosomal lainnya. Meskipun tidak akan memperoleh kesembuhan yang sempurna, tetapi autisme dapat ditangani. Gejala yang berhubungan dengan autisme sering membaik seiring dengan dimulainya seorang anak mempelajari bahasa dan berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhannya.

Pada kebanyakan kasus autisme, tidak ditemukan penyebab yang jelas. Pada sebagian kecil kasus, penyebab biologis telah teridentifikasi, meskipun tidak ada yang khas untuk autisme. Beberapa faktor prenatal yang berhubungan mencakup infeksi rubella saat kehamilan, penyakit tuberous sclerosis, kelainan kromosomal seperti sindroma Down's, selain itu adanya kelainan otak seperti hidrosefalus. Kondisi pos natal yang diketahui sering berhubungan dengan autisme mencakup fenilketonuria (PKU) yang tidak diobati, spasme infantile, dan ensefalitis akibat virus herpes simpleks. Namun secara keseluruhan tidak ditemukan penyebab yang berhasil diidentifikasikan.

Teori terbaru yang diajukan oleh banyak ahli menyatakan autisme merupakan kelainan berdasarkan faktor genetik yang timbul sebelum lahir. Pada penelitian yang dilakukan terhadap penderita autisme, ditemukan kelainan pada struktur otak yang berkembang pada beberapa awal minggu pertama perkembangan janin. Terdapat bukti yang menyatakan bahwa faktor genetik merupakan penyebab yang penting (tapi tidak khusus) dari autisme, mencakup 3-8% risiko dari kekambuhan pada keluarga dengan seoranng anak autis. Suatu kelompok kerja National Institutes of Health tahun 1995 menghasilkan konsensus yang menyatakan bahwa autisme merupakan suatu kondisi genetik. Bahasan yang belum terselesaikan oleh kelompok kerja ini adalah peranan faktor kekebalan pada spektrum kelainan autisme, hal ini menunjukkan bahwa penting diadakan penelitian untuk menjernihkan situasi tersebut.

Tidak ada bukti yang menunjukkan keterkaitan

Beberapa orang tua yang memiliki anak autisme yakin bahwa terdapat hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Namun sebenarnya, tidak terdapat alasan yang terpercaya bahwa ada vaksin yang dapat menyebabkan autisme atau gangguan tingkah laku lainnya. Gejala dari autisme khasnya diketahui oleh orang tua pada saat anak mereka mengalami kesulitan dan keterlambatan bicara setelah usia satu tahun. Vaksin MMR diberikan pertama kali pada saat anak berusia 12-15 bulan. Hal ini juga berkaitan dengan usia munculnya autisme pada umumnya, maka tidak mengherankan autisme timbul setelah pemberian vaksin MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi, penjelasan logis yang dapat diberikan untuk kasus ini adalah suatu kejadian yang tidak sengaja bersamaan, bukan suatu hubungan sebab dan akibat.

Jika vaksin campak atau vaksin lainnya dapat menyebabkan autisme, maka akan menjadi suatu kasus yang sangat jarang terjadi, karena berjuta anak di dunia ini mendapatkan vaksin tanpa ada efek yang menimbulkan penyakit. Satu-satunya “bukti” yang menunjukkan hubungan antara vaksin MMR dan autisme diterbitkan pada British journal Lancet tahun 1998. Akan tetapi untuk tahun keluaran yang sama muncul pula suatu editorial yang membahas tentang kebenaran penelitian tersebut. Berdasarkan data dari 12 pasien, dr. Andrew Wakefield (seorang ahli pencernaan Inggris) dan sejawatnya berspekulasi bahwa vaksin MMR mungkin menjadi penyebab adanya masalah pada usus yang menyebabkan penurunan penyerapan dari vitamin esensial dan zat-zat nutrisi yang selanjutnya menimbulkan gangguan perkembangan seperti autisme contohnya. Dalam hal ini tidak terdapan analisa ilmiah yang dilaporkan untuk teori tersebut. Apakah yang terjadi pada 12 pasien tersebut dapat mewakili suatu sindrom klinis yang khas sulit dinilai tanpa mengetahui besarnya populasi dan periode waktu saat kasus tersebut didentifikasi. Jika kasus tersebut menjadi rujukan yang selektif dari pasien dengan autisme untuk praktek si peneliti, misalnya, maka kasus yang dilaporkan akan menggambarkan kerancuan dari rujukan tersebut. Selanjutnya, teori yang menyatakan bahwa autisme dapat menyebabkan penyerapan yang buruk dari zat-zat nutrisi kurang beralasan dan tidak didukung oleh data klinis. Pada setidaknya 4 dari 12 kasus, masalah tingkah laku muncul sebelum timbulnya gejala dari penyakit inflamasi usus (inflammatory bowel disease). Selanjutnya setelah publikasi mereka pada Februari 1998, Wakefield dan sejawatnya telah menerbitkan hasil penelitian yang lain dengan pemeriksaan laboratorium yang memadai dari pasien dengan penyakit inflamasi usus, menunjukkan mekanisme autisme setelah vaksinasi MMR hasilnya negatif untuk virus campak.

Pemeriksaan terbaru lainnya juga tidak mendukung hubungan sebab akibat antara vaksin MMR (atau vaksin campak lainnya) dan autisme atau inflammatory bowel disease (IBD). Pada suatu pemeriksaan yang lainnya, suatu kelompok kerja dari vaksin MMR dari United Kingdom's Committee on Safety of Medicines tahun 1999 mengalami tuntutan sejumlah evaluasi dari ratusan laporan yang dikumpulkan oleh suatu firma pengacara, dengan adanya autism, penyakit Crohn, atau kelainan perkembangan lainnya yang serupa, setelah mendapatkan vaksin MMR atau MR. Kelompok kerja tersebut menyusun secara sistematis keterangan dari orang tua dan dokter yang menangani. Kesimpulan yang diberikan oleh kelompok kerja tersebut menyatakan bahwa informasi yang ada tidak mendukung hubungan sebab akibat ataupun jaminan keamanan vaksin MMR dan MR. Pada Maret 2000, laporan dari Medical Research Council menyatkan bahwa antara bulan Maret 1998 dan September 1999 tidak ditemukan bukti yang menunjukkan hubungan sebab akibat MMR dengan autisme atau IBD, hal yang sama juga dilaporkan oleh American Medical Association.

Suatu penelitian oleh Taylor dan sejawat menunjukkan bukti yang berdasarkan populasi dimana bukti tersebut menjawab keterbtasan yang dihadapi oleh kelompok kerja dan Wakefield serta sejawatnya. Beliau mengidentifikasikan 498 kasus kelainan spektrum autisme atau autism spectrum disorders (ASD) pada beberapa distrik di London yang lahir tahun 1979 atau sesudahnya dan menghubungkan dengan suatu pencataan vaksinasi regional independen. ASD mencakup autisme kalsik, autisme atipikal, dan sindroma Asperger, hasil yang juga didapat serupa ketika kasus autisme klasik dianalisa secara terpisah. Hasil dari penelitian tersebut:

  • Terdapat peningkatan jumlah kasus ASD sejak 1979, tetapi tidak ada lonjakan setelah pengenalan vaksin MMR pada tahun 1988.
  • Pada kasus yang mendapat vaksinasi sebelum usia 18 bulan terdapat kesamaan usia saat terdiagnosis autisme dengan kasus yang mendapatkan vaksin setelah berusia 18 bulan ataupun dengan yang tidak divaksinasi, hal ini menunjukkan bahwa vaksinasi tidak berperan pada pemunculan awal karakterisk autistik.
  • Kasus ASD yang mendapatkan vaksin MMR pada usia dua tahun memiliki kesamaan dengan anak-anak yang berusia sama di seluruh daerah menunjukkan suatu bukti bahwa sangat sedikit keterkaitan antara kasus ASD dengan vaksinasi tersebut.
  • Diagnosis awal atau tanda permulaan dari kemunduran tingkah laku tidak muncul bersamaan dengan periode setelah pemberian vaksinasi.
  • Data statistik mengenai hubungan temporal (waktu) antara vaksinasi MMR dan mulainya orang tua memperhatikan kelainan pada tingkah laku anaknya menunjukkan hasil yang sulit diinterpretasi, hal ini dimungkinkan karena kesulitan orang tua untuk mengingat kembali usia saat gejala muncul dan kecenderungan untuk memperkirakan usia munculnya gejala pada usia 18 bulan.

Suatu penelitian yang dilakukan pada populasi anak di dua komunitas yang berbeda di Swedia juga menunjukkan tidak adanya bukti hubungan vaksin MMR dengan autisme. Hasil penelitian itu menemukan tidak terdapat perbedaan prevalensi autisme antara anak yang lahir sesudah pengenalan imunisasi MMR di Swedia maupun sebelumnya.

Pada Januari 1990, sebuah komite dari Institute of Medicine yang mengamati efek vaksin DPT pada kesehatan menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara vaksin DPT atau komponen pertusis dari vaksin DPT dan autisme. Hal yang sama juga dilaporkan CDC's Monitoring System for Adverse Events Following Immunization (MASAEFI), menunjukkan tidak ada laporan yang menyatakan adanya autisme yang muncul setelah 28 hari pemberian imunisasi DPT pada rentang waktu antara 1978-1990, suatu periode dimana 80.1 juta dosis vaksin DPT diberikan di Amerika Serikat. Dari Januari 1990 sampai Februari 1998, hanya 15 kasus gangguan tingkah laku autisme (autism behavior disorder) setelah imunisasi yang dilaporkan pada sistem pencatatan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau Vaccine Adverse Events Reporting System (VAERS). Karena jumlah kasus yang dilaporkan dalam rentang waktu 8 tahun tersebut sangat kecil, maka kasus tersebut kurang mewakilli kejadian yang berhubungan dengan pemberian vaksinasi. Vaksin yang sering dilaporkan pada laporan tersebut adalah DPT, vaksin polio oral atau oral polio vaccine (OPV), dan MMR. Vaksin lain yang dilaporkan memiliki kemungkinan berhubungan dengan autisme adalah vaksin Haemophilus influenzae type B dan Hepatitis B.

Pada tahun 2000, American Academy of Pediatrics mengadakan konvensi panel multidisiplin untuk membahas perkembangan, epidemiologi, dan aspek genetik dari ASD dan hipotesis yang berhubungan dengan IBD, campak, dan vaksin MMR. Panel tersebut menyimpulkan:

“Meskipun kemungkinan hubungan dengan vaksin MMR telah mendapat perhatian dari masyarakat banyak dan mendapat perhatian politik, dan banyaknya masyarakat yang membuat kesimpulan sendiri berdasarkan pengalaman mereka, bukti yang ada tidak mendukung hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara vaksin MMR sebagai penyebab autisme atau gangguan serupa lainnya ataupun IBD. Pemberian vaksin campak, gondong, dan rubela secara terpisah tidak memiliki keuntungan tersendiri dibandingkan dengan pemberian vaksin MMR dan menyebabkan terlambatnya atau kealpaan pemberian imunisasi. Dokter anak harus bekerja sama dengan orang tua untuk meyakinkan bahwa anak mereka akan mendapatkan perlindungan dari vaksinasi. Usaha ilmiah yang berkelanjutan perlu dilakukan untuk mencari penyebab dari ASD.”

Kenyataan bahwa autisme terdiagnosis pada usia tahun kedua atau ketiga, tidak berarti bahwa autisme baru terjadi saat usia tersebut. Hasil analisis yang didapatkan dari sebuah rekaman sederhana sejak kelahiran, menunjukkan bhawa anak yang didiagnosis autis antara usia 2 atau 3 tahun memiliki tanda-tanda abnormal pada usia satu tahun pertama dan kadang pada awal kelahiran.

Baru-baru ini, National Childhood Encaephalopathy Study (NCES) mengamati apakah terdapat adanya hubungan antara vaksin campak dan kelainan neuroligis. Peneliti di Inggris menemukan bahwa tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa vaksin campak berpengaruh terhadap perkembangan edukasi dan defisit tingkah laku atau tanda-tanda kerusakan neurologis untuk jangka lama.

Kebanyakan orang tidak mengalami kejadian lanjutan setelah mendapat vaksinasi MMR. Sekitar 5%-15% dari jumlah pemberian vaksin mengalami demam 5-12 hari setelah vaksinasi MMR dan 5% timbul ruam kemerahan. Hal yang melibatkan susunan saraf pusat mencakup ensefalitis dan ensefalopati dilaporkan terjadi 1 dari 1 juta dosis yang diberikan. Pada Juli 2002, setelah pernyataan dari Wakefield sebelum U.S. Congressional committee yang diketuai oleh Dr. Michael Fitzpatrick (seorang dokter umum dari Inggris dan orang tua dari seorang anak autis) menyatakan Wakefield "telah menggunakan jalur di luar ilmu kedokteran serta memanfaatkan kepopuleran media dan kampanye populis." Pada suatu ulasan mengenai pernyataan Wakefield dan Paul Shattock, seorang ahli farmasi dan penyanggah vaksin yang menjalani Autism Research Unit pada University of Sunderland, Fitzpatrick menyatakan:

“Sekarang berkembang jaringan laboratorium swasta yang menawarkan pemeriksaan urin dan darah yang dikatakan oleh Mr Shattock - semuanya tidak menunjukakan nilai diagnostik. Terdapat sektor bisnis substansial yang menjual suplemen makanan, vitamin, mineral, enzim dan segala jenis produk makanan spesifik – yang tidak terbukti memiliki nilai terapeutik. Tes dan suplemen tersebut memiliki biaya yang mahal dan tidak menunjukkan hasil yang dapat dibuktikan, banyak ditawarkan ke orang tua yang putus asa, sering kali dengan pendapatan yang rendah.”

Terdapat bebrapa pencari keuntungan dari kampanye anti-MMR. Dokter umum swasta sekarang mengambil keuntungan dari penjualan vaksin secara terpisah. Pengacara dengan semangat mengumpulkan biaya jasa mereka dengan meningkatkan harapan dari orang tua bahwa mereka dapat menerima kompensasi akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh vaksin MMR. Oleh karena itu bukanlah suatu hal yang mengejutkan kalau mereka tersebut merupakan pendukung antusias dari pernyataan Dr Wakefield. Sangat terlihat bahwa jurnalis Inggris terpengaruh dengan karisma Dr Wakefield dan terhanyut dalam pengetahuan murahan, dan mereka malas untuk menyelidiki penyelewangan yang dilakukan oleh kampanye anti-MMR.

Seiring dengan pemaparan dengan zat-zat yang dapat menimbulkan demam, beberapa anak dapat mengalami kejang demam. Kebanyakan setelah vaksinasi campak terjadi kejang demam sederhana dan dapat terjadia pada anak dengan faktor risiko yang tidak diketahui sebelumnya. Peningkatan resiko kejang yang dicetuskan oleh demam meningkat pada anak dengan riwayat kejang sebelumnya.

Hal Yang Penting

Tidak ada data yang terbukti menunjukkan bahwa vaksin campak meningkatkan risiko berkembangnya autisme atau gangguan tingkah laku lainnya. Keuntungan yang didapatkan jauh lebih besar dari risiko yang mungkin timbul. CDC secara berkelanjutan merekomendasikan 2 dosis vaksin MMR untuk anak yang tidak memiliki kontra indikasi; dosis awal pada usia 12-15 bulan dan yang kedua pada usia 4-6 tahun ataut 11-12 tahun.

Untuk menjamin keamanan vaksin CDC, FDA, National Institutes of Health (NIH), dan badan federal lainnya secara rutin mengamati adanya bukti baru yang berhubungan dengan keamanan vaksin. Baru-baru ini CDC mengadakan penelitian di daerah metropolitan Atlanta untuk mengevaluasi kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dan autisme.

Imunisasi untuk melawan campak menghasilkan penurunan insiden campak secara nyata. Peran CNN dalam meliput masalah vaksin MMR dan autisme sangat tidak bertanggung jawab dan dapat menyebabkan kematian pada anak-anak yang orang tuanya takut untuk memberikan imunisasi MMR pada anak-anak mereka.

from : http://www.sehatgroup.web.id/artikel/223.asp?FNM=223

0 komentar:


Blogspot Template by Isnaini Dot Com